PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DINILAI DARI LABA RESIDUAL DAN ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) SEBAGAI ALTERBATIF PENGUKURAN KINERJA BERBASIS ACCRUAL EARNING

By Rahmat Febrianto On Sabtu, 08 Mei 2010 At 21.31

Oleh: Rahmat Febrianto


Pendahuluan


Pengukuran kinerja perusahaan sudah sama tuanya dengan usia kapitalisme industri itu sendiri. Majalah Forbes sejak tahun 1917 telah melaporkan statistik tentang dividend yields, earnings per share, dan return on investment perusahaan-perusahaan tertentu (Goetzmann dan Garstska, 2000). Namun demikian data komprehensif tentang kinerja keuangan perusahaan di Amerika Serikat justru diterbitkan oleh Senat Amerika Serikat pada tahun 1918. Laporan tersebut pada dasarnya ditujukan untuk mengenakan pajak penghasilan pada perusahaan yang mempunyai penghasilan 15% lebih besar daripada modalnya. Untuk mendapatkan angka kinerja keuangan yang tepat, harus ada pengukuran laba yang sama untuk setiap perusahaan.


Terdapat beberapa penelitian di awal abad ke 20 mencari standarisasi pengukuran kinerja perusahan, di antaranya oleh Epstein, Sterrett, dan Crum (Goetzmann dan Garstska, 2000). Crum menyatakan bahwa tingkat pengembalian yang pantas pada perusahaan-perusahaan di AS adalah sekitar 2%. Menurut Goetzmann dan Garstska, Laurence H. Sloan, 1917, adalah orang yang pertama menyaring data akuntansi perusahaan menjadi ukuran kinerja sebagai dasar pembuatan keputusan. Ukuran kinerja earnings on invested capital (EOIC) yang dirumuskan Sloan merupakan ukuran utama kinerja perusahaan. EOIC dirumuskan sebagai total aktiva dikurangi dengan kewajiban lancar.


Pengukuran kinerja perusahaan kemudian berkembang dengan munculnya return on investment (ROI). Ukuran ini dikutip oleh Alfred P. Sloan dari buku Laurence Sloan Corporate Profits: A Study of Their Size, Variation, Use, and Distribution in a Period of Prosperity. ROI dirumuskan sebagai persentase laba atas investasi yang ditanamkan perusahaan pada periode. Tujuan ROI adalah mengukur tingkat pengembalian yang didapat oleh perusahaan atas investasi yang digunakan untuk operasi.
Pentingnya Pengukuran Kinerja Perusahaan


Sebagai suatu nexus berbagai kepentingan, setiap pihak yang memiliki hubungan dengan perusahaan sangat berkepentingan dengan kinerja perusahaan. Dalam literatur manajemen pentingnya pengukuran kinerja perusahaan dapat dijelaskan dengan dua teori yaitu teori keagenan dan teori pensinyalan.


Pada teori keagenan (Jensen dan Meckling, 1976) dijelaskan bahwa pada sebuah perusahaan terdapat dua pihak yang saling berinteraksi. Pihak-pihak tersebut adalah pemilik perusahaan (pemegang saham) dan manajer perusahaan. Pemegang saham disebut sebagai prinsipal, sedangkan manajer, orang yang diberi kewenangan oleh pemegang saham untuk menjalankan perusahaan, disebut agen.


Teori keagenan menjelaskan bahwa hubungan agen-prinsipal sangat tergantung pada penilaian prinsipal tentang kinerja agen. Posisi manajer adalah sebagai agen yang bertujuan untuk memberikan kekayaan kepada prinsipal atau pemilik perusahaan. Dalam hubungan ini pemilik menuntut pengembalian investasi yang mereka percayakan untuk dikelola oleh manajer. Manajer dengan demikian harus memberikan pengembalian yang memuaskan pemilik perusahaan. Kinerja yang baik akan berpengaruh positif pada kompensasi yang mereka terima, dan sebaliknya kinerja yang buruk akan berpengaruh negatif.


Logikanya, kembalian yang baik harus lebih besar atas dana atau investasi yang ditanamkan. Besar-kecilnya pengembalian tersebut dapat diukur dengan banyak cara, mulai dari laba akuntansi, laba per lembar saham, dividen per lembar saham, hingga tingkat pengembalian seperti return in equity (ROE), return on investment (ROI), atau return on assets (ROA). Laba bersih menunjukkan besarnya sisa penjualan perusahaan setelah dikurangi dengan semua biaya-biaya untuk mendapatkan penghasilan tersebut. Laba per lembar saham adalah jumlah total laba bersih dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Nilai laba per lembar saham lebih mampu memberikan gambaran besarnya bagian laba yang dilaporkan tersebut relatif terhadap porsi saham yang dimiliki oleh seorang pemegang saham. Gambaran yang lebih jelas lagi diberikan oleh membandingkan antara total bagian laba bersih yang dibagikan sebagai dividen dengan jumlah lembar saham yang beredar. ROI memberikan ukuran yang berbeda dari ketiga ukuran terdahulu. ROI seperti yang dijelaskan sebelumnya menyatakan nilai relatif bagian laba bersih dibandingkan dengan total investasi yang ditanamkan oleh perusahaan. Nilai ROI menggambarkan pertumbuhan kekayaan perusahaan dalam bentuk pertumbuhan laba bersih selama satu periode.


Teori kedua yang dapat menjelaskan pentingnya pengukuran kinerja adalah teori pensinyalan. Teori ini menjelaskan bahwa laporan keuangan yang baik merupakan sinyal atau tanda bahwa perusahaan juga telah beroperasi dengan baik. Sinyal yang baik akan direspon dengan baik oleh pihak lain.


Untuk menjalankan perusahaan, manajer memerlukan pihak-pihak di luar diri manajemen perusahaan. Pihak tersebut mulai dari investor, kreditur, pemasok, hingga pelanggan. Investor hanya akan menanamkan modal jika mereka menilai perusahaan mampu memberikan nilai tambah atas modal, lebih besar dibandingkan jika mereka menanamkannya di tempat lain. Untuk itu, perhatian mereka akan diarahkan pada kemampulabaan perusahaan. Kreditur di pihak lain, lebih tertarik pada kemampuan perusahaan untuk melunasi pinjaman yang mereka berikan. Sedangkan pemasok dan pelanggan cenderung lebih memperhatikan kelancaran barang yang masuk dan keluar dari perusahaan. Semua informasi tersebut dapat diketahui dari laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan.


Respon pasar terhadap perusahaan dengan demikian sangat tergantung pada sinyal yang dikeluarkan oleh perusahaan. Lev dan Thiagarajan (1993) menyatakan bahwa ada 12 sinyal fundamental yang dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan laba. Sinyal-sinyal tersebut adalah:


1. Sinyal persediaan


2. Sinyal piutang dagang


3. Sinyal pengeluaran modal


4. Sinyal pengeluaran penelitian dan pengembangan


5. Sinyal margin kotor


6. Sinyal pengeluaran penjualan dan administrasi


7. Sinyal provisi untuk piutang ragu-ragu


8. Sinyal tingkat pajak efektif


9. Sinyal pemesanan yang belum dipenuhi


10. Sinyal kekuatan tenaga kerja


11. Sinyal laba LIFO


12. Sinyal kualifikasi audit


Semua sinyal tersebut dinyatakan Lev dan Thiagarajan mampu merefleksikan hubungan antara data akuntansi saat ini untuk memprediksi perubahan laba di masa datang. Dalam penelitian ini mereka mendapatkan hubungan yang signifikan antara sinyal-sinyal fundamental di atas dengan return saham. Penelitian-penelitian berikutnya, terutama penelitian yang berkaitan dengan kandungan informasi dalam laporan keuangan, menemukan hubungan yang signifikan antara pengumuman laba perusahaan dengan pengembalian saham (lihat misalnya .


Dari kedua hal tersebut jelas bahwa adanya pengukuran kinerja merupakan hal yang krusial dalam hubungan antara perusahaan dengan stakeholders perusahaan. Hubungan yang baik hanya akan terus berlanjut jika prinsipal puas dengan kinerja agen dan penerima sinyal juga menafsirkan sinyal perusahaan sebagai sinyal yang positif.
Akuntansi sebagai basis pengukuran


Hingga saat ini model akuntansi berbasis harga pokok historis dan akrual masih menjadi kerangka dasar pelaporan keuangan (Wolk et. al, 2000:265). Titik sentral model ini adalah aturan pengakuan pendapatan dan aturan penandingan beban dan pendapatan. Sebagian besar jenis biaya diakui selama beberapa periode akuntansi, bukan pada saat terjadinya biaya tersebut. Di antara pengeluaran yang menjadi biaya periodik adalah biaya penyusutan aktiva tetap, biaya start-up organisasi, amortisasi goodwill, dan amortisasi premium dan diskonto obligasi. Jenis-jenis biaya yang dicontohkan tersebut merupakan pendistribusian harga pokok[1] selama perkiraan masa manfaat harga pokok tersebut. Pengakuan harga pokok selama beberapa periode ini disebut dengan alokasi akuntansi.


Alokasi akuntansi banyak mendapat kritik. Dalam teori dan praktek terdapat banyak metode alokasi. Banyaknya alternatif metode ini menunjukkan bahwa tidak ada metode alokasi yang lebih tepat dibandingkan dengan metode yang lain untuk mengalokasikan harga pokok. Artinya, proses alokasi semata-mata berdasarkan pertimbangan akuntan, yang dalam literatur akuntansi dikenal sebagai keseragaman yang longgar (finite uniformity). Sifat finite uniformity sesungguhnya akan mengurangi keterbandingan laporan keuangan antar perusahaan (FASB, 1970:46). Banyaknya asumsi dan alokasi yang digunakan dalam proses penyusunan laporan keuangan menyebabkan distorsi laporan keuangan. Kelemahan tersebut disebut sebagai accounting distortion. Accounting distortion muncul karena adanya pilihan metode akuntansi yang digunakan perusahaan, seperti pilihan untuk menggunakan LIFO atau FIFO, pilihan metode purchasing atau pooling of interest Stewart (1991:84). Pemilihan metode berbeda dari salah satu dari dua kelompok di atas akan memberikan nilai laba yang berbeda. Hirsch (1994:19-20) menyatakan bahwa individu lebih menyukai informasi yang agregat (ringkas). Bamber (1987) dalam penelitiannya menemukan bahwa investor lebih memberikan perhatian pada laporan laba rugi. Penelitian-penelitian lain tentang pengaruh penerbitan laporan laba rugi, pengumuman EPS, dan dividen menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengumuman laba dengan harga saham (lihat misalnya, Arbell et al 1988, Sarjana, 1990; Bachri, 1996, dan Sadikin, 2000). Hasil-hasil penelitian tersebut mendukung argumen Hirsch tentang bentuk informasi yang dapat diserap oleh pengguna informasi, termasuk pengguna informasi akuntansi.


Namun, temuan di atas berbeda dengan temuan Shyam Sunder (Stewart, 1991:24) yang menemukan bahwa perusahaan yang melakukan peralihan dari metode FIFO ke LIFO justru mengalami peningkatan harga saham rata-rata 5% pada hari perubahan metode diumumkan. Secara teoritis perubahan metode ini, dalam masa inflasi, akan menyebabkan laba menjadi lebih rendah. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kenaikan harga saham merupakan proporsi langsung dari nilai tunai pajak yang dihemat dari perubahan metode tersebut. Jika disimpulkan, kedua penelitian ini menyimpulkan bahwa harga saham ditentukan oleh kas yang dihasilkan bukan oleh laba perusahaan.


Terlepas dari perdebatan di atas, hingga saat ini laporan keuangan masih didasarkan pada harga pokok historis. Kekhawatiran adanya distorsi akuntansi karena konsep harga pokok historis dan jika dibandingkan dengan metode-metode penilaian lain, seperti exit value, entry value, atau discounted cash flow, manfaat penggunaan harga pokok historis masih lebih tinggi dari harga pokok penggunaan model penilaian tersebut.


Perdebatan menarik terjadi menyangkut model yang dikembangkan oleh Ohlson (1995) dan Feltham dan Ohlson (1995). Ohlson dan Feltham dan Ohlson mengembangkan teori penilaian sekuritas yang lebih bersesuaian dengan konsep dan angka-angka akuntansi yaitu clean surplus theory (Wolk et. al 2000). Penilaian ekuitas perusahaan didasarkan pada nilai buku awal ditambah dengan nilai tunai abnormal earnings masa depan yang diharapkan. Abnormal earnings didefinisikan sebagai selisih lebih atas laba normal yang diharapkan. Laba normal sama dengan nilai buku awal periode dikalikan dengan harga pokok modal ekuitas. Model Ohlson dan Feltham dan Ohlson ini jelas berlandaskan pada konsep akuntansi akrual sebagai dasar pengukuran.


Berbagai penelitian kemudian banyak dilakukan menggunakan model Feltham dan Ohlson ini. Liu dan Thomas (1998) melakukan penelitian untuk menjawab keragua-raguan banyak pihak tentang kemampuan intrinsik laba akuntansi menjelaskan pengembalian saham. Mereka menyimpulkan bahwa sepanjang analis memahami prinsip dan metode akuntansi yang digunakan dan menyertakan pemahaman tersebut dalam melakukan peramalan, maka hubungan antara harga saham dan laba abnormal masa datang tetap akan valid. Black (1998) melakukan penelitian pada perusahaan yang berada pada tingkat siklus hidup yang berbeda. Ia menyimpulkan bahwa (1) untuk perusahaan yang dalam tahap dewasa, laba lebih value relevant, (2) arus kas lebih value relevant pada perusahaan yang berada pada tahap pertumbuhan dan/atau ketidakpastian, (3) laba lebih value relevant dibandingkan dengan arus kas operasi, investasi, atau pendanaan pada perusahaan dalam tahap dewasa, (4) arus kas investasi lebih value relevant dari pada laba untuk perusahaan ada pada tahap start-up. Barth et. al (1999) menyatakan bahwa (1) akrual dan arus kas membantu peramalan laba abnormal masa datang inkremental atas laba abnormal dan nilai buku ekuitas, (2) akrual dan arus kas memberikan daya penjelas (explanatory power) untuk nilai pasar ekuitas inkremental atas nilai buku ekuitas dan laba normal, dan (3) terdapat bukti bahwa koefisien penilaian akrual dan arus kas konsisten dengan model Ohlson.


Semua peneliti di atas termasuk FASB (1978) dalam SFAC No. 1, Beaver (1998) dalam Wolk et. al (2001:244) berpendapat bahwa akuntansi berbasis akrual mampu memprediksi kemampuan perusahaan meramalkan laba masa depan. Namun Belkaoui (1999) membuktikan bahwa model Feltham-Ohlson akan lebih bersifat descriptive jika menggunakan net value added dibandingkan dengan menggunakan conventional earning yang diajukan oleh Feltham-Ohlson di dalam modelnya. Belkaoui mendefinisikan net value added sebagai total kekayaan yang didistribusikan kepada seluruh penyedia modal (capital), yaitu investor, kreditur, dan pemerintah. Dengan menukar laba akuntansi dengan net value added, akan didapat dua keunggulan. Pertama, net value added merupakan ukuran yang lebih baik dibandingkan dengan laba akuntansi (Arsken et. al, 1994 dalam Belkaoui, 1999). Kedua, jika menggunakan net value added, akan ikut diperhitungkan informasi yang value relevant selain laba ke dalam model penilaian ekuitas tersebut. Ohlson (2000) kemudian menjelaskan bahwa terdapat kelemahan dalam asumsi yang digunakan oleh Belkaoui di atas. Pertama dengan dasar per lembar saham, clean surplus tidak akan akurat jika terjadi perubahan jumlah saham yang beredar. Aspek ini menghilangkan kondisi prasyarat validnya rumusan penilaian residual income yang merujuk pada net value added dalam perhitungan yang dilakukan oleh Belkaoui di atas.


Pernyataan Belkaoui ini agaknya sejalan dengan mulai makin berkembangnya pendapat tentang laba residual di dalam banyak literatur akuntansi. Ohlson (2000) sendiri menyadari hal tersebut sehingga ia harus menjabarkan ulang model penilaian ekuitasnya setelah tulisan Belkaoui di atas terbit.
Residual Income dan EVA
Residual income


Pada awal tahun 1960-an, David Solomons, profesor akuntansi pada Wharton School, menjabarkan suatu monograf yang berjudul Divisional Performance: Measurement and Control, suatu kelaziman penggunaan konsep return on investment di 50 perusahaan besar Amerika. Ia menyatakan:


Though almost all the companies participating in this study make some use of the concept of return on investment, the nature and extent of its use are by no means uniform. In this respect, these companies are probably typical of the rest of America industry. At one end of the spectrum are the firms which use the rate of return concept least. For these organization, profit as a percentage of sales still plays the largest role in the apparatus control. Then there are those companies which use the rate of return primarily as a measure of corporate success and publish the corporate earnings rate for the information of the stockholders. Finally there are some companies which have placed the rate of return right in the center of their thinking about both planning and control, and never make a decision (or judge a past decision or the achievement of a past period) without relating earnings to the capital investment needed to generate them.






Pada saat yang sama perhatian orang dihabiskan untuk mendiskusikan bagaimana cara yang tepat untuk menghitung return on investment, dengan menggunakan angka-angka akuntansi, yang mencakup keadaan ekonomi mendasar yang sebagaimana yang dimaksud analisis discounted cash flow Fisher (Goetzmann dan Gartska, 1999).


Solomons mengakui bahwa tingkat kembalian mengabaikan skala operasi dan berfokus pada kembalian itu sendiri. Sebagai ukuran kinerja ex post, tingkat kembalian cukup baik, namun sebagai insentif manajerial untuk pengambilan keputusan yang tepat, tingkat kembalian tidak dapat secara tepat mengarah pada investasi semua proyek yang memiliki NPV yang positif. Solomons kemudian mengusulkan, untuk semua perusahaan, laba residual (residual income) adalah ukuran yang tepat untuk perilaku maksimalisasi para manajer dan untuk mengevaluasi kinerja. Laba residual di sini adalah laba akuntansi dikurangi dengan beban penggunaan modal ekuitas.


Pertanyaan yang muncul tentang laba residual adalah angka akuntansi mana yang akan digunakan untuk menaksir tingkat kenaikan investasi. Laporan akuntansi gagal melaporkan semua investasi yang ada di sisi aktiva sebuah neraca (misalnya biaya iklan atau riset dan pengembangan). Laporan akuntansi juga tidak selalu menilai investasi yang dicatat dengan menggunakan nilai rupiah. Ini merupakan bias harga pokok historis akuntansi akrual. Lebih jauh lagi, jika laba residual digunakan sebagai ukuran evaluasi kinerja, maka dibutuhkan suatu penaksiran harga pokok modal yang tepat.


Dengan demikian, walaupun beberapa konsep utama pengukuran kinerja saat ini berasal dari tahun 1920-an, banyak perdebatan tentang evaluasi kinerja perusahaan berpusat pada masalah paling praktikal yang ditemukan oleh Solomons di tahun 1960-an, yaitu bagaimana caranya menghasilkan angka akuntansi yang tepat untuk dimasukkan ke dalam model ekonomi yang tepat secara ekonomis (G & G, 1999). Solomons mengidentifikasikan beberapa masalah pengukuran yang lebih lazim saat ini dibandingkan dengan 40 tahun yang lalu. Masalah yang paling serius menurut Solomons dalam penghitungan tingkat kembalian adalah sebagian besar penghitungan modal yang ditanamkan atau investasi dibatasi hanya pada investasi yang berwujud saja. Contohnya adalah pengeluaran awal yang terjadi pada saat pendirian perusahaan. Contoh lain, uang yang dibelanjakan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan pelanggan, pemasok, dan pegawai tidak dimasukkan ke dalam penghitungan investasi, hanya dibebankan sebagai biaya periodik. Sehingga investasi yang dicantumkan di neraca hanya investasi yang berwujud saja.
Economic Value Added


Selama berabad-abad, ahli ekonomi telah berpendapat bahwa sebuah perusahaan telah menciptakan nilai jika mampu menghasilkan laba melebihi harga pokok modal hutang dan ekuitas (Hamilton, 1777, Marshall, 1890 dalam Biddle et. al 1997). Pendapat ini mengandung arti bahwa perusahaan yang menghasilkan laba adalah perusahaan yang mampu menghasilkan laba melebihi biaya atas penggunaan sumber dana yang digunakannya untuk beroperasi. Pada abad ke 20 konsep ini dioptimalkan dengan berbagai label termasuk laba residual. Solomons (1965) merekomendasikan laba residual sebagai ukuran internal kinerja perusahaan dan Anthony (1973, 1982) merekomendasikan laba residual sebagai ukuran kinerja eksternal.


Sejak awal tahun 1990-an Stern Stewart & Co mengusulkan varian lain laba residual yaitu economic value added (EVA) menggantikan laba atau arus kas operasi sebagai ukuran kinerja internal dan eksternal perusahaan. Mereka berpendapat “..abandon earnings per share (Stewart, 1991:2). Laba, laba per lembar saham, dan pertumbuhan laba adalah ukuran kinerja perusahaan yang menyesatkan (Stewart, 1991:66). EVA is almost 50% better than its closest accounting-based competitor in explaining changes in shareholders’ wealth (Stewart, 1991:75).


Secara khusus, EVA cukup sesuai dengan definisi Solomons tentang laba residual perusahaan, yaitu laba operasi bersih setelah pajak dikurangi dengan modal dikurangkan dengan harga pokok modal atau earnings – (WACC x Capital). Sebuah perusahaan yang memaksimalkan EVA berarti memaksimalkan laba residual Solomons. Jika kita bagi masing-masing komponen di atas dengan capital berarti kita mendapatkan EOIC (earnings on invested capital) harga pokok modal[2]. Walaupun terdapat banyak perbedaan signifikan dalam penghitungan rinci, EVA secara konseptual sangat dekat dengan ukuran kinerja perusahaan awal.


Sebagian pihak menyatakan bahwa penghitungan EVA mirip dengan penghitungan NPV dan model pertumbuhan Gordon (Goetzmann dan Gartska, 1999). Namun sebenarnya terdapat perbedaan penting. NPV dan model Gordon adalah model yang multi periode. Artinya, mereka menilai perusahaan dalam hal prospek masa depan dan jangka panjang, tidak hanya profitabilitas tahun berjalan. Contohnya adalah model pertumbuhan Gordon yang menjadikan pertumbuhan sebagai variabel yang sangat penting. Jika dibandingkan dengan rumusan EVA, maka kita tidak akan menemukan pertumbuhan potensial masa datang di dalam rumusan yang bertujuan untuk memaksimalisasi laba jangka pendek tersebut.


Masalah lainnya adalah seberapa baik EVA, atau laba residual dan ROI menjelaskan perbedaan kinerja antar perusahaan?
Riset Sehubungan dengan EVA dan Laba (Earnings)


Hingga saat ini telah terdapat banyak penelitian yang mempelajari hubungan antara ukuran kinerja saat ini dan pengembalian masa datang bagi investor perusahaan. Peneliti seperti Liu dan Thomas (1998), Black (1998), dan Barth et. al (1999) telah membuktikan bahwa akuntansi akrual membantu peramalan laba abnormal masa datang inkremental atas laba abnormal dan akuntansi akrual memberikan daya penjelas (explanatory power) untuk nilai pasar ekuitas inkremental atas nilai buku ekuitas dan laba normal.


Biddle et. al (1997) kemudian menemukan dalam hal kandungan informasi, laba (earnings) secara signifikan lebih baik dari pada laba residual (RI) dan laba residual lebih baik dari pada EVA dan ketiga-tiganya lebih baik dari pada CFO (cash flow from operation). Untuk meyakinkan penghitungan yang mereka lakukan, Biddle et. al kemudian melakukan penghitungan ulang atas dasar penelitian Hayn (1995), Burgstahler dan Dichev (1997), dan Collins et. al (1997). Peneliti-peneliti yang disebutkan belakangan tersebut membuktikan bahwa perusahaan yang rugi memiliki koefisien laba yang lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan yang berlaba. Karena value relevant ukuran kinerja lain (CFO, RI, dan EVA) juga dapat beragam tergantung pada tandanya (O’Byrne, 1996), Biddle et. al melakukan pengujian ulang terhadap kandungan informasi setelah terlebih dulu membagi masing-masing ukuran kinerja dengan tanda positif dan negatif. Hasil yang didapatkan hampir tidak berbeda dengan yang mereka temukan sebelumnya. Laba (earnings) mendominasi masing-masing pengukuran kinerja, dan ketiganya (earnings before extraordinary items/EBEI, RI, dan EVA) mendominasi CFO. Perbedaannya adalah RI dan EVA tidak lagi berbeda secara statistik, yang dalam hal ini sama-sama merupakan laba residual. Secara keseluruhan hasil relatif kandungan informasi tidak menunjukkan bukti bahwa EVA, RI, atau CFO mendominasi EBEI. Artinya, Biddle et. al gagal mendukung klaim Stern Stewart bahwa EVA memiliki kandungan informasi lebih besar dari pada laba, atau dalam pengertian yang lebih luas tidak terdapat bukti bahwa laba residual memiliki kandungan informasi yang lebih besar daripada laba akuntansi yang berbasis akrual. Namun Biddle et. al mengakui bahwa EPS sama baik dan bahkan lebih baik dibandingkan dengan EVA dalam menjelaskan perbedaan antar perusahaan dan dalam meramalkan kinerja masa datang.
Simpulan


Pengukuran kinerja perusahaan telah menjadi perhatian besar sejak boom kapitalisme industri di dunia. Berbagai teknik pengukuran sejak saat itu telah dikembangkan. Dari sekian banyak alat analisis yang ada, satu persamaan adalah penggunaan data akuntansi sebagai input pengukuran. Perdebatan kemudian muncul sejalan dengan perdebatan tentang kelemahan yang melekat pada sistem akuntansi. Laba akuntansi akrual dianggap memiliki kelemahan jika digunakan untuk meramalkan masa datang karena basisnya ada pada masa lalu. Konsep laba residual tidak muncul begitu saja ketika perdebatan tersebut muncul. Konsep ini sesungguhnya telah lama ada dan kemudian dicuatkan oleh Stern Stewart & Co sebagai economic value added.


EVA adalah sebuah varian dari konsep laba residual dan dapat dilihat sebagai suatu usaha modern untuk menerapkan konsep yang telah dibangun sepanjang abad ke 20 oleh para ahli ekonomi dan manajer. Kesederhanaan penghitungan EVA adalah daya tarik dan keterbatasan EVA itu sendiri. Walaupun EVA menggambarkan konsep dasar laba residual suatu periode, EVA tidak menggambarkan sifat inter-temporal masalah penilaian. Tanpa ada penyesuaian yang tepat, EVA hanya merupakan perubahan singkat kesempatan pertumbuhan masa datang.






REFERENSI






Arbel, Avner; Steven Carvel; dan Erick Postniek, May-June 1988, The Smart Crash of October 19th, Harvard Business Review, 124-136


Bachri, Syamsul, 1996, Pengaruh Profitabilitas dan Nilai Perusahaan terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Go Public di BEJ, thesis, Universitas Gajah Mada


Bamber, Linda Smith, 1986, The Information Content of Annual Earnings Release: A Trading Volume Approach, Journal of Accounting Research, 40-55


Barth, Mary E.; William H. Beaver; John R. M. Hand; dan Wayne R. Landsman, 1999, Accruals, Cash Flows, and Equity Values, working paper, SSRN


Belkaoui, Ahmed Riahi, dan Ronald D. Picur, 1999, The Substitution of Net Value Added for Earnings in Equity Valuation, Managerial Finance, 66-78.


Biddle, Garry C.; Robert M. Bowen; dan James S. Wallace, 1997, Does EVA Beat Earning? Evidence on Association with Stock Returns and Firm Values, Journal of Accounting and Economics (24), 301-334


Black, Ervin L., 1998, Which is More Value Relevance: Earnings or Cash Flows? A Life Cycle Examination, Social Science Research Network Electronic Library


FASB, 1978, Statement of Financial Accounting Concepts No. 1, FASB.


Goetzmann, William N, dan Stanley J. Gartska, 1999, The Development of Corporate Performance Measures: Benchmark Before EVA®, SSRN.


Hirsch, Jr., Maurice L., 1994, Advanced Management Accounting, Cincinnati, Ohio: South-Western Publishing Co.,


Liu, Jing; Dorron Nissim; dan Jacob Thomas, 1999, Equity Valuation Using Multiples, working paper, SSRN


Lev, B, S.R. Thiagarajan, 1993, Fundamental Information Analysis, Journal of Accounting Research, 31 (autumn), 190-215


Ohlson, James A., 2000, Residual Income Valuation: The Problems, working paper, SSRN


Sadikin, Dikdik Saleh, 2000, Pengaruh Publikasi Laporan Keuangan terhadap Harga dan Volume Perdagangan Saham di BEJ tahun 1997, thesis, Univ. Gajah Mada


Sarjana, 1990, Pengaruh EPS dan DPS terhadap Harga Saham Biasa: Studi Kasus Pasar Modal di Jakarta periode 1984-1988, Universitas Gajah Mada


Stewart, G. Bennett, 1990, The Quest for Value, Harper Colins Publishers Inc.


Wolk, Harry I.; Michael J. Tearney; dan James L. Dodd, 2001, Accounting Theory A Conceptual and Institutional Approach, 5/e, South Western College Publishing.






[1] Penulis menggunakan kata “pokok”. Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan pokok sebagai harga pembelian (lihat KBBI 1989:692). Oleh karena itu penulis menggunakan harga pokok sebagai padanan cost, bukan “kos” sebagaimana yang diusulkan oleh Suwardjono 19??.


[2] Goetzmann dan Gartska dalam tulisannya keliru menjabarkan laba residual sebagai E – WACC x C. E adalah laba, C modal yang diinvestasikan, dan R adalah tingkat pengembalian. Dalam tulisan mereka, mereka membagi rumusan di atas dengan modal yang diinvestasikan dan menyatakan hasil pembagian tersebut sebagai selisih EOIC dengan tingkat pengembalian. Seharusnya, jika mengikuti rumusan yang di atas, maka hasil perbandingan rumus laba residual tersebut adalah seperti yang penulis cantumkan (untuk jelasnya lihat Stewart, 1991:136-137).

for this post

 
Blogger Unknown Says:

maaf pak, saya didin mahasiswa yang sedang melakukan penelitian ahir, saya mau bertanya kepada bapak, apakah bapak mempunyai literatur tentang cash flow to price dengan stock returt, dan apa logikanya dari hubungan tersebut pak..terimakasih banyak atas waktu dan kesediaan bapak untuk menjawab pertanyaan saya.

regards
didin

 

Leave a Reply