Pergantian auditor dan kantor akuntan publik*

By Rahmat Febrianto On Minggu, 24 Mei 2009 At 10.16

Pergantian auditor secara wajib dengan secara sukarela bisa dibedakan atas dasar pihak mana yang menjadi fokus perhatian dari isu tersebut. Jika pergantian auditor terjadi secara sukarela, maka perhatian utama adalah pada sisi klien. Sebaliknya, jika pergantian terjadi secara wajib, perhatian utama beralih kepada auditor. 
Ketika klien mengganti auditornya ketika tidak ada aturan yang mengharuskan pergantian dilakukan, yang terjadi adalah salah satu dari dua hal: auditor mengundurkan diri atau auditor dipecat oleh klien. Manapun di antara keduanya yang terjadi, perhatian adalah pada alasan mengapa peristiwa itu terjadi dan ke mana klien tersebut akan berpindah. Jika alasan pergantian tersebut adalah karena ketidaksepakatan atas praktik akuntansi tertentu, maka diekspektasi klien akan pindah ke auditor yang dengan mereka klien akan bersepakat. Jadi, fokus perhatian peneliti adalah pada klien.

Sebaliknya, ketika pergantian auditor terjadi karena peraturan yang membatasi tenure, maka perhatian utama beralih kepada auditor pengganti, tidak lagi kepada klien. Berbeda dengan pergantian sukarela yang bisa terjadi karena pertengkaran antara klien dengan auditor, pada pergantian secara wajib yang terjadi adalah pemisahan paksa oleh peraturan. Ketika klien mencari auditor yang baru, maka pada saat itu informasi yang dimiliki oleh klien lebih besar dibandingkan dengan informasi yang dimiliki auditor. Ketidaksimetrisan informasi ini logis karena klien pasti memilih auditor yang kemungkinan besar akan lebih mudah untuk sepakat tentang praktik akuntansi mereka. Sementara itu, auditor bisa jadi tidak memiliki informasi yang lengkap tentang kliennya. Jika kemudian auditor bersedia menerima klien baru, maka hal ini bisa terjadi karena auditor telah memiliki informasi yang cukup tentang klien baru itu atau auditor melakukannya untuk alasan lain, misalnya alasan finansial. Jadi jelas bahwa pada pergantian sukarela, perhatian bukan pada alasan mengapa klien mengganti auditor, melainkan pada alasan mengapa auditor bersedia menerima klien baru.

Pergantian sukarela dan pergantian wajib
Isu pergantian auditor secara sukarela atau secara wajib adalah isu yang belum usai diperdebatkan di kalangan praktisi pengauditan dan sebagian akademisi di satu sisi dan regulator dan sebagian akademisi lain di sisi yang lain. Perdebatan ini sebenarnya berawal dari ide bahwa auditor harus mempertahankan independensi dalam penugasan. Di satu sisi, wajar jika independensi auditor diragukan jika ia memiliki tenure yang makin panjang pada satu klien. Walaupun ia bertugas atas nama pemegang saham, auditor bagaimanapun juga dipilih dan digaji oleh manajemen klien. Ketika hubungan tersebut makin panjang, maka dependensi finansial auditor terhadap klien akan makin besar juga. Semakin tinggi dependensi finansial ini, maka dikhawatirkan independensi auditor akan makin turun. Logika ini yang mendorong regulator untuk melarang auditor memiliki hubungan yang panjang dengan klien. 

Di sisi lain, kalangan praktisi dan sebagian akademisi tidak setuju dengan pendapat tersebut. Fakta bahwa ada masalah dependensi yang serius antara Enron dengan Andersen tidak bisa mengeneralisasi bahwa masalah yang sama terjadi juga di perusahaan yang lain. DeFond dan Francis (2xxx) menyatakan bahwa kegagalan audit sebenarnya mendekati nol. Profesi pengauditan tidak mendukung kebijakan ini karena setiap kali mereka harus mengaudit klien yang baru ada dua biaya yang harus mereka tanggung: biaya untuk mempelajari bisnis klien dan biaya litigasi. Kedua biaya ini bisa berhubungan: jika auditor gagal mempelajari bisnis klien maka ada kemungkinan bahwa klien akan berbuat curang dan auditor tidak bisa menemukan kecurangan tersebut; jika kecurangan tersebut kemudian membawa dampak yang buruk kepada pengguna laporan keuangan, maka auditor harus menanggung biaya litigasi atas opininya tersebut karena laporan keuangan manajemen harus dipandang sebagai pelaporan bersama antara auditor dengan manajemen klien (Kinney, 1xxx). 

Kritik pedas yang disampaikan oleh akademisi terhadap kebijakan regulator ini adalah mengapa harus ada pemaksaan terhadap klien untuk mengganti auditor (dan dalam hal ini termasuk juga kantor akuntan publik) secara reguler. Mereka mempertanyakan mengapa tidak membiarkan perusahaan memiliki keputusan sendiri terkait dengan lama hubungan perusahaan dengan auditor (lihat DeFond dan Francis, 2xxx untuk diskusi yang lebih dalam tentang masalah ini).

Menurut Nagy (2xxx), penjelasan alasan kepindahan klien dari satu auditor dan alasan kesediaan auditor menerima klien baru berhubungan dengan alasan pergantian tersebut. Pada lingkungan yang tidak membatasi pergantian auditor, pergantian terjadi karena beberapa alasan. Klien bisa memecat auditornya karena ketidaksepakatan dengan auditor terkait tentang isu praktik akuntansi tertentu. Oleh karena itu diprediksi klien akan mencari auditor yang akan bersepakat dengan praktik akuntansi yang mereka usulkan. Klien yang memecat auditor akan cenderung mencari jasa audit dari auditor yang berukuran yang lebih kecil karena auditor kecil ini diekspektasi tidak terlalu “menuntut” dibandingkan dengan auditor pendahulu (Bockus dan Gigler, 1xxx). 

Auditor sendiri bisa mengundurkan diri dari penugasan. Bockus dan Gigler (1xxx) menyimpulkan bahwa auditor lebih suka mengundurkan diri jika risiko yang mereka hadapi dari mengaudit satu klien membesar. Risiko tersebut bisa muncul karena, misalnya, ketidaksepakatan atas satu estimat akuntansi. Antle dan Nalebuff (1xxx) dan Dye (1xxx) menyimpulkan bahwa usulan auditor hanya akan diterima klien jika estimat auditor dekat dengan estimat klien. Jika tidak ada kesepakatan tentang estimat yang diperdebatkan, maka auditor akan dipecat atau mengundurkan diri (Dye, 1xxx). 

Sebaliknya, pergantian auditor yang dilakukan secara wajib dilakukan bukan karena alasan ketidaksepakatan praktik seperti pada lingkungan pergantian secara sukarela di atas. Pergantian auditor secara wajib semata-mata dilakukan atas dasar peraturan. Salah satu negara di dunia yang memberlakukan peraturan ini adalah Indonesia. Aturan pergantian wajib ini diberlakukan sejak tahun 2003, menindaklanjuti kasus Enron/Andersen dan pemberlakuan SOX.

Berbeda dengan auditor yang lalu yang mungkin telah memahami aspek bisnis klien, auditor yang baru bisa jadi sama-sekali buta tentang bisnis klien. Mereka mungkin juga sama-sekali tidak mengetahui reputasi klien mereka di masa lalu sehubungan dengan pelaporan keuangan. Faktor ini yang kemudian mendorong auditor untuk bersikap lebih skeptis terhadap klien yang baru. 

Level skeptisisme yang lebih tinggi ini sebenarnya memiliki dua sisi. Sisi pertama, ia akan meningkatkan fee audit karena auditor membutuhkan biaya start-up yang lebih besar karena harus mengaudit satu klien yang baru. Walaupun tidak terlalu berbeda dengan pergantian secara sukarela, di mana auditor bisa berekspektasi bahwa klien tetap akan diaudit lagi pada tahun-tahun setelahnya, pada lingkungan pergantian wajib tidak ada keharusan klien untuk tetap diaudit oleh auditor pengganti. Mereka bisa saja kembali ke auditor yang lama karena kecocokan yang mungkin telah ada sebelum peraturan membatasi hubungan mereka. Karena probabilitas yang lebih kecil untuk bisa mempertahankan klien yang berpindah karena keharusan peraturan ini, maka fee audit tetap menjadi lebih tinggi karena fee audit akan termasuk biaya yang berhubungan dengan pengenalan bisnis klien. Penurunan fee pada awal penugasan (lowballing) seperti yang dijelaskan oleh DeAngelo (1xxx) kemungkinan tidak bisa terjadi karena auditor tidak bisa berekspektasi bahwa perusahaan itu tetap akan menjadi klien mereka di masa depan. Logika ini masuk akal karena pemilihan auditor yang baru dimotivasi oleh peraturan, bukan karena kesesuaian atau peluang untuk sepakat dengan praktik akuntansi klien.

Sisi yang kedua dari level skeptisisme yang tinggi ini berhubungan dengan kehati-hatian klien mengaudit klien yang baru. Jika auditor tidak mengetahui bisnis klien dan reputasi klien di masa lalu, maka ia akan lebih berhati-hati dalam mengaudit klien yang baru. Kehati-hatian ini berkaitan dengan usaha auditor untuk mengurangi biaya litigasi. Penelitian Nagy (2xxx) menunjukkan bahwa auditor yang mengaudit eks-klien Andersen lebih bersikap konservatif dengan memilih metoda akuntansi yang menurunkan laba. Sikap konservatif ini ditunjukkan dengan nilai akrual diskresioner yang negatif. Artinya, skeptisisme auditor yang tinggi terhadap klien yang baru membuat mereka lebih berhati-hati dan menolak metoda akuntansi yang meragukan dan memandang bahwa eks-klien Andersen adalah sumber risiko bagi auditor (Cahan dan Zhang, 2xxx). Dengan dasar logika seperti ini maka pendukung pergantian auditor secara wajib mengklaim bahwa pergantian secara wajib itu akan meningkatkan kualitas audit.

Perbedaan pergantian auditor di SOX dan Keputusan Menteri Keuangan RI
Rotasi atau pergantian wajib atas kantor akuntan yang memberikan jasa audit kepada klien sebenarnya tidak pernah diatur di AS. Walaupun publik dan pemerintah AS tetap memiliki keinginan untuk mengatur rotasi tersebut. Upaya tersebut tergambar dari pembentukan Metcalf Subcommittee tahun 1978 oleh Senat AS dan Cohen Commission tahun 1978 oleh AICPA. Tahun 1999 Akuntan Kepala SEC mengirim surat kepada American Accounting Association untuk melakukan penelitian sehubungan dengan masalah perputaran wajib tersebut (Dopuch, King, dan Schwartz, 2xxx). Upaya yang paling baru adalah melalui SOX pada tahun 2002. Namun, sebenarnya pemerintah AS akhirnya tidak pernah mengatur rotasi tersebut, bahkan hingga di SOX. Justru yang diatur di dalam SOX hanyalah rotasi partner audit. Di seksi 203 dari SOX dinyatakan bahwa, 


It should be unlawful for a registered public accounting to provide audit services to an issuer if the lead (or coordinating) audit partner, or the audit partner responsible for reviewing the audit, has performed audit services for that issuer in each of the 5 previous years of that issuer.

Dengan demikian, sebuah kantor akuntan publik hanya boleh menugaskan satu orang partner untuk memimpin audit di satu klien yang sama selama lima tahun berturut-turut. Aturan ini juga menyiratkan bahwa perusahaan tidak perlu mengganti kantor akuntan mereka karena alasan peraturan ini. 

Walau demikian, bukan berarti bahwa regulator tidak tertarik lagi dengan ide untuk mewajibkan rotasi. Buktinya, SOX memberi mandat kepada US Comptroller General untuk melaksanakan satu studi dan mengkaji efek potensial dari pewajiban rotasi wajib atas kantor akuntan publik (seksi 207 SOX). Yang dimaksud sebagai rotasi wajib adalah pemberlakuan batasan perioda tahun sebuah kantor akuntan publik boleh mengaudit satu klien yang sama. Laporan General Accounting Office yang diminta oleh Kongres untuk meneliti masalah tersebut menyimpulkan beberapa hal. Pertama, rotasi wajib atas kantor akuntan bukanlah cara yang paling efisien untuk memperkuat independensi auditor dan meningkatkan kualitas audit. Manfaat potensial dari rotasi wajib tersebut sukar untuk diprediksi dan dihitung. Kedua, GAO menyarankan agar pemerintah AS melakukan observasi selama beberapa tahun sebelum efek dari SOX bisa dinilai. Hal yang lebih penting dilakukan oleh pemerintah adalah mengevaluasi keefektifan aturan-aturan yang ada dalam peningkatan independensi dan kualitas audit. Ketiga, pemerintah harus mendorong peran komite audit untuk menjamin independensi auditor dan untuk tujuan itu, komite audit harus mempertahankan independensi dan memiliki sumberdaya yang memadai.

Simpulan yang bisa penulis tarik adalah, pertama, hingga sekarang AS hanya mewajibkan rotasi atas partner audit setelah ia menjadi pemimpin penugasan selama lima tahun pada satu klien. Kedua, isu tentang rotasi kantor akuntan publik masih isu yang belum selesai. Pemerintah tetap kukuh ingin memberlakukan peraturan tersebut. Perdebatan masih terus berjalan dan ide pemerintah terus ditentang. Pemerintah dituduh ingin mengambil-alih hak profesi untuk mengatur diri sendiri (lihat DeFond dan Francis, 2xxx untuk diskusi mendalam tentang penolakan ini). Ketiga, keraguan pemerintah AS untuk menerapkan aturan perotasian wajib tersebut terkendala dari ketiadaan riset yang bisa digunakan untuk melihat dampak dari rotasi kantor akuntan terhadap kualitas audit. Riset yang dilakukan oleh Nagy (2xxx) terhadap eks-klien Andersen tidak bisa dengan baik menggambarkan dampak dari pergantian auditor wajib tersebut terhadap kualitas audit. Bahkan riset ini tidak bisa dilihat sebagai sebuah upaya yang tepat meneliti tentang masalah perputaran wajib kantor akuntan. Menurut penulis, kepindahan eks-klien Andersen, seperti yang dibahas oleh Nagy tersebut, kepada auditor baru bukan disebabkan oleh peraturan yang membatasi hubungan mereka, namun karena Andersen sudah tiada sementara mereka harus tetap diaudit. Selain itu, Nagy sendiri hanya menemukan bahwa konservatisme auditor terhadap eks-klien Andersen hanya berlaku pada subsampel yang berukuran kecil dengan daya tawar-menawar yang kecil. Jadi jelas bahwa penundaan pemberlakuan kewajiban perotasian kantor akuntan hingga saat ini lebih disebabkan oleh ketiadaan riset yang mendukung undang-undang ini. Oleh karena itu dibutuhkan adalah sebuah riset tentang rotasi wajib kantor akuntan di dalam lingkungan hukum yang mewajibkan perotasian tersebut.

Indonesia adalah salah satu negara yang mewajibkan pergantian kantor akuntan dan partner audit diberlakukan secara periodik. Peraturan tentang pergantian ini sudah muncul pada tahun 2002 dalam bentuk keputusan Menteri Keuangan. Di dalam pasal 6 ayat 4 Keputusan Menteri Keuangan no. 423 tahun 2002 tersebut dikatakan bahwa:
   
Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh KAP paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.

Selanjutnya di pasal 59 ayat 5 dan 6 dinyatakan bahwa


(5) KAP yang telah memberikan jasa audit umum untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut atau lebih dan masih mempunyai perikatan audit umum untuk tahun buku berikutnya atas laporan keuangan dari suatu entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, hanya dapat melaksanakan perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku berikutnya

(6) Akuntan Publik yang telah memberikan jasa audit umum untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut atau lebih dan masih mempunyai perikatan audit umum untuk tahun buku berikutnya atas laporan keuangan dari suatu entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, hanya dapat melaksanakan perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku berikutnya.

Pada tahun 2003, keputusan tahun 2002 diamandemen. Aturan mengenai perputaran kantor akuntan dan akuntan publik menegaskan bahwa audit umum atas laporan keuangan yang masih bisa dilakukan oleh kantor akuntan (akuntan publik) yang telah mencapai batas waktu lima (tiga) tahun berturut-turut adalah sampai dengan tahun buku 2003. Terakhir, pada tahun 2008, Menteri Keuangan kembali menerbitkan peraturan terkait jasa akuntan publik. Perubahan yang dilakukan di antaranya adalah, pertama, pemberian jasa audit umum menjadi enam tahun berturut-turut oleh kantor akuntan dan tiga tahun berturut-turut oleh akuntan publik kepada satu klien yang sama (pasal 3 ayat 1). Kedua, akuntan publik dan kantor akuntan boleh menerima kembali penugasan setelah satu tahun buku tidak memberikan jasa audit kepada klien yang di atas (pasal 3 ayat 2 dan 3).


Implikasi dari peraturan-peraturan tersebut ada beberapa terhadap riset di bidang pengauditan. Pertama, peraturan tersebut memberi ruang bagi riset tentang perputaran akuntan dan perputaran akuntan publik secara wajib. Ketiadaan peraturan di AS adalah salah satu penghambat yang diakui oleh para peneliti untuk menentukan apakah perputaran wajib akan bisa meningkatkan kualitas audit. Dopuch et al. (2xxx) menyatakan bahwa perdebatan tentang biaya dan manfaat dari regulasi atas perputaran wajib ini membutuhkan riset yang ekstensif—sesuatu yang belum bisa dilakukan di AS. 

Kedua, karena tahun 2003 adalah tahun terakhir bagi auditor yang telah mengaudit satu klien hingga batas waktu yang ditentukan sebelum berpindah, maka sejak tahun 2004 pergantian auditor telah terjadi. Oleh karena itu, dengan syarat bahwa sampel memang memadai agar sebuah pengujian bisa dilakukan, riset tentang perputaran wajib telah bisa dilakukan. Perputaran auditor yang lebih besar kemungkinan terjadi setelah audit tahun buku 2006 dengan asumsi bahwa masa penugasan awal terjadi di tahun 2002. 

Ketiga, peraturan menteri di tahun 2008 tersebut membuka peluang klien untuk kembali kepada auditor lama mereka setelah menjalani penyapihan selama satu tahun. Banyak pertanyaan yang timbul dari lubang sehubungan dengan penyapihan satu tahun ini. Di antara mereka adalah: apakah memang benar-benar terjadi pergantian auditor pada satu tahun tersebut? Apakah tidak mungkin bahwa klien hanya dititip kepada auditor lain sebelum kemudian dikembalikan oleh auditor pengganti tersebut pada tahun berikutnya? Pertanyaan yang lebih penting: Apakah tujuan dari perputaran wajib tersebut bisa dicapai dengan aturan tersebut jika klien boleh kembali lagi berhubungan auditornya setelah satu tahun buku? Lebih spesifik lagi, apakah kualitas laporan keuangan klien lebih tinggi jika ia diaudit oleh auditor pengganti? Jika memang lebih tinggi, apakah kualitasnya akan tetap lebih tinggi jika kemudian ia kembali ke auditornya yang lama? Mengapa tidak mengharuskan klien tetap diaudit oleh satu auditor selama masa tertentu sebelum membolehkan perusahaan diaudit oleh kantor akuntan yang lain? Perioda pengauditan yang pendek (satu tahun) justru bisa membuat auditor tidak bisa bersikap independen (Dopuch et al., 2xxx) karena mereka harus menutupi biaya audit sehubungan dengan penugasan yang baru tersebut. Sehingga, lepas dari hasil penelitian Dopuch et al. (2001) tersebut, berapa lama retensi atas auditor seharusnya dilakukan agar independensi auditor tidak rusak? Jika auditor harus diganti setelah enam tahun berturut-turut, mengapa tidak regulator di Indonesia tidak mengharuskan klien untuk mempertahankan auditor selama masa yang mereka yakini independensi akan tetap bisa dipertahankan? Dopuch et al. (2xxx) menemukan bukti bahwa jika kewajiban rotasi dan retensi sama-sama ada, maka auditor akan kehilangan insentif yang besar untuk menerbitkan laporan yang bias. Bias ini jauh lebih besar dibandingkan jika regulator sama sekali tidak mengatur masalah retensi dan/atau rotasi. 

Pertanyaan-pertanyaan penelitian di atas adalah sebagian dari pertanyaan yang mungkin muncul sehubungan dengan keberadaan peraturan Menteri Keuangan tentang pergantian auditor wajib. Menurut hemat penulis, ketiga peraturan Menteri Keuangan tersebut diterbitkan sebagai respon atas skandal akuntansi yang terjadi di AS. Sehingga, relevan kiranya jika riset tentang pergantian auditor secara wajib yang tidak bisa dilakukan di AS dilakukan dalam suasana Indonesia.


Isu tentang independensi dengan pergantian kantor akuntan publik dan auditor
Jawaban atas pertanyaan apakah independensi auditor akan lebih terjaga ketika hubungan mereka dengan klien dibatasi atau tidak hanya bisa dilakukan jika ada perbandingan perbedaan perilaku auditor pada kedua suasana tersebut. Perilaku auditor diduga tidak akan sama pada aturan rotasi yang berbeda, terutama jika ada aturan rotasi atau tidak ada aturan rotasi. Ketiadaan aturan rotasi akan memberi insentif kepada auditor untuk selama mungkin mempertahankan hubungannya dengan klien, walaupun mungkin tindakan tersebut mencederai independensi mereka. Sehingga adanya aturan rotasi yang membatasi masa tugas auditor akan ketergantungan auditor terhadap klien menjadi terbatas dan kemungkinan pelanggaran independensi akan berkurang. Untuk membuktikan klaim tersebut, dibutuhkan sebuah riset yang meneliti kedua rezim tersebut dalam kondisi yang sebanding. 

Di antara banyak artikel yang mempertanyakan validitas klaim pendukung ide perputaran wajib kantor akuntan, Dopuch et al. (2xxx) adalah satu dari sedikit artikel yang mendukung klaim tersebut. Secara spesifik, mereka menginvestigasi bagaimana regulasi tentang rotasi dan retensi kantor auditor bisa meningkatkan independensi auditor. Mereka melakukan eksperimen dengan empat rezim: rezim tanpa ada aturan rotasi dan retensi sehingga auditor bisa dipecat kapan saja atau diretensi selama disukai; rezim dengan keharusan meretensi auditor setelah tiga perioda melaksanakan tugas tapi tanpa ada keharusan untuk merotasi; rezim dengan keharusan merotasi auditor setelah empat perioda melaksanakan tugas tapi tanpa keharusan meretensi; dan rezim dengan keharusan untuk merotasi setelah empat perioda dan meretensi selama tiga perioda. 

Di dalam eksperimen tersebut, subyek-auditor diminta untuk memberikan opini atas hasil audit mereka terhadap laporan investasi subyek-manajer. Realisasi investasi auditor terbagi menjadi dua: tinggi dan rendah. Opini auditor atas investasi tersebut terbagi menjadi dua juga: memberikan opini yang menguntungkan manajer (yaitu memberikan opini bahwa hasil investasi baik ketika sebaliknya) dan memberikan opini yang apa adanya (yaitu memberikan opini bahwa hasil investasi buruk ketika memang buruk dan memberikan opini bahwa hasil investasi baik ketika memang baik).

Dopuch et al. (2xxx) berekspektasi bahwa auditor akan memberikan opini bahwa hasil investasi memiliki nilai yang lebih tinggi relatif terhadap capaian sesungguhnya pada perioda ketika manajer boleh memecat mereka. Dopuch et al. (2xxx) membandingkan rasio antara sinyal investasi yang buruk namun dilaporkan sebaliknya oleh auditor dengan jumlah sinyal investasi yang buruk di masing-masing dari keempat rezim di atas. Rasio ini adalah frekuensi laporan auditor yang bersifat menguntungkan manajer (favorable) dan dibandingkan kemudian dengan probabilitas posterior yang ditetapkan oleh peneliti.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa frekuensi pelaporan laporan yang menguntungkan manajer paling besar pada rezim ketika aturan tentang rotasi dan retensi tidak ada. Frekuensi yang lebih kecil ditunjukkan, berturut-turut, oleh rezim di mana retensi diwajibkan, rezim di mana rotasi diwajibkan, dan, yang paling kecil, rezim di mana rotasi dan retensi diwajibkan. Hasil ini menunjukkan bukti bahwa auditor lebih sering memberikan opini bahwa investasi manajer (klien) menguntungkan daripada fakta sebenarnya jika rotasi maupun retensi atas masa tugas auditor tidak diatur; sebaliknya, auditor paling jarang memberikan opini tersebut jika rotasi dan retensi atas masa tugas mereka diatur. 

Pengujian lain ingin membuktikan apakah auditor frekuensi pelaporan auditor sesuai dengan probabilitas posterior yang ditetapkan oleh peneliti. Tujuannya adalah menginvestigasi seberapa bias auditor dalam memberikan pendapatnya. Caranya, subyek-auditor diminta untuk menentukan berapa jumlah persentase investasi yang dilakukan oleh subyek-manajer yang menyatakan bahwa investasi tersebut memiliki outcome yang tinggi ketika sebenarnya outcomenya rendah. Semakin tinggi persentasenya, semakin bias pendapat auditor. Persentase ini kemudian dibandingkan dengan probabilitas bias posterior bias tetapan peneliti. Hasil pengujian menunjukkan bahwa auditor lebih bias pada rezim yang tidak mengharuskan rotasi maupun retensi. Pada rezim yang mengharuskan ada rotasi secara berkala, frekuensinya mendekati nilai probabilitas posterior tetapan. Sedangkan pada rezim yang memiliki aturan rotasi dan retensi secara periodik frekuensi tersebut lebih kecil daripada probabilitas posterior atau auditor lebih konservatif.

Dari hasil pengujian kita bisa menyimpulkan bahwa jika tujuan pembuat kebijakan adalah untuk mengurangi dampak perusakan independensi dari rente (rents) kontinjen, sementara strategi pelaporan yang bebas bias tetap dipertahankan, maka tujuan tersebut bisa dicapai melalui pemberlakuan kewajiban rotasi. Kewajiban perotasian secara sendiri akan menghasilkan bias independensi yang cukup rendah. Bias independensi yang paling rendah adalah jika kewajiban perotasian dan peretensian diberlakukan secara bersamaan. Pada rezim ini auditor paling konservatif terkait dengan opininya. 

Simpulan tentang pergantian kantor akuntan publik dan auditor
Independensi auditor adalah sebuah sikap mental auditor yang diekspektasi oleh pengguna laporan keuangan dimiliki oleh auditor. Sikap mental ini mutlak harus ada pada diri auditor ketika ia menjalankan tugas pengauditan yang mengharuskan ia memberi atestasi atas kewajaran laporan keuangan kliennya. Wajar adanya jika pengguna laporan keuangan, regulator, dan pihak-pihak lain selalu mempertanyakan apakah auditor bisa independen dalam menjalankan tugasnya. Auditor adalah orang atau profesi yang mendapatkan penghasilan dari klien yang mereka audit. Dalam sebagian kasus, persentase penghasilan dari satu klien dibandingkan dengan semua klien mungkin sedemikian signifikan mempengaruhi penghasilan kantor akuntan. Sehingga, kehilangan klien tersebut bisa secara material mempengaruhi pendapatan kantor akuntan. Keraguan tentang independensi ini bertambah berat karena kantor akuntan publik selama ini diberi kebebasan untuk memberikan jasa non-audit kepada klien yang mereka audit. Pemberian jasa non-audit ini menambah besar jumlah dependensi secara finansial kantor akuntan kepada kliennya. 

Jika auditor hanya memberikan jasa kepada klien satu atau beberapa kali, mungkin sumbangan fee yang dibayarkan klien terhadap penghasilan total auditor tidak akan material. Namun, jika pemberian jasa tersebut dilakukan dalam jangka panjang, apalagi jika ukuran perusahaan klien besar, maka tidak mustahil auditor akan kehilangan potensi penghasilan yang cukup signifikan seandainya mereka tidak bisa mempertahankan klien tersebut. Sehingga tidak heran jika sebagian kantor akuntan memiliki hubungan yang panjang dengan klien mereka. Semakin panjang hubungan, semakin banyak penghasilan yang diperoleh dari klien, dan semakin besar probabilitas auditor akan dependen terhadap kliennya.

Kritik terhadap dependensi tersebut tidak bisa dilepaskan pula dari fakta bahwa perbandingan jumlah kantor akuntan publik dengan jumlah perusahaan yang diaudit. Jumlah kantor akuntan selalu lebih kecil daripada jumlah perusahaan yang meminta jasa audit. Kantor akuntan sendiri memiliki perbedaan kualitas antar mereka sehingga perusahaan akan cenderung memilih kantor akuntan yang baik. Selain itu, ada kecenderungan pula bahwa perusahaan hanya akan memilih kantor akuntan yang sepakat dengan pilihan metoda akuntansi tertentu. Simpulannya, hubungan antara klien dengan auditor memang secara alami akan terjadi dan sangat besar kemungkinan akan terjalin dalam jangka panjang.

Penulis berpendirian bahwa rotasi secara wajib ketika auditor telah melakukan audit umum atas laporan keuangan harus dilakukan. Hubungan yang panjang akan memberikan aliran penghasilan kepada kantor akuntan dan secara alami hal ini membuat auditor akan berusaha mempertahankan kliennya, walau dengan risiko bahwa independensinya akan rusak. Klaim bahwa auditor akan lebih independen jika rotasi dilakukan telah dibuktikan oleh Dopuch et al. (2xxx)—yang ternyata tidak pernah diacu oleh penolak ide rotasi wajib tersebut. Independensi akan makin besar jika kantor akuntan juga kepada klien diberi batasan waktu minimal sebelum ia boleh mengganti auditor kembali (lihat Dopuch et al., 2xxx untuk bukti empiris lebih rinci).
Bukti empiris ini bisa digunakan untuk menangkis keluhan kantor akuntan bahwa tahun-tahun pertama audit adalah tahun-tahun yang berisiko dan mahal bagi mereka karena, di antara beberapa, pertama, auditor tidak mengenal bisnis klien; kedua, auditor tidak memiliki informasi tentang reputasi klien di masa lalu; ketiga, biaya pemulaian (start-up) audit mahal karena kantor akuntan harus mendidik lagi auditor mereka untuk penugasan di klien yang baru (lihat, misalnya, Carcello dan Nagy, 2xxx). Sehingga, dengan memberi batas minimum retensi terhadap auditor, masalah seperti di atas akan bisa dikurangi. Di sisi lain, sebenarnya juga tidak ada jaminan bahwa kantor akuntan yang sama akan bisa mempertahankan kualitas audit mereka dalam jangka panjang. Mereka bisa jadi akan menugaskan staf yang kurang berpengalaman karena menganggap bahwa pekerjaan audit di klien tertentu adalah hal rutin atau mereka bisa saja memperlonggar prosedur audit mereka karena menganggap bahwa klien mereka tidak akan berbuat curang.

Jadi wajar saja bahwa ide pergantian auditor secara wajib diajukan dan dipertimbangkan. Sebagian negara di Uni Eropa telah mewajibkan rotasi wajib terhadap kantor akuntan (Dopuch et al., 2xxx). Regulator di AS tidak bisa meyakinkan bahwa ide ini tepat karena tidak ada riset yang menggunakan data aktual. Riset yang mendukung ide ini hanyalah riset yang dilakukan oleh Dopuch et al. (2xxx) dan riset ini tidak pernah dianggap sebagai bukti empiris yang mendukung ide regulator tersebut. Buktinya bisa dilihat di artikel DeFond dan Francis (2xxx) yang walau dengan luas membahas dan menentang hubungan independensi auditor dengan perputaran, namun hanya berisi bukti-bukti penolakan tentang ide regulator tersebut dan mengklaim bahwa tidak ada bukti empiris tentang itu. Oleh karena itu, harus ada riset yang dilakukan di dalam lingkungan hukum yang mewajibkan perputaran kantor akuntan—sesuatu yang tidak bisa dilakukan di AS.




Sleman, May 2009
*Catatan kepada pembaca. Anda bisa memanfaatkan semua bahan di sini untuk tujuan keilmuan, misalnya dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan penelitian di dalam paper ini untuk keperluan penelitian anda. Semua tulisan di paper ini, termasuk artikel-artikel lain di blog ini adalah karya asli dan untuk itu bisa dijadikan acuan secara ilmiah--misalnya dengan cara memberi kredit kepada link ini. Namun, untuk mencegah penjiplakan karya, saya meniadakan keterangan rinci tentang sumber bacaan--itupun hanya dengan menghilangkan tiga digit akhir dari tahun penerbitan artikel sumber. Pembaca yang berminat dengan masalah ini, termasuk membutuhkan semua bahan acuan saya, bisa mengirimkan email melalui formulir komentar di blog ini.

Label: , ,

for this post

 
Blogger aayame Says:

kepada mas rahmat, saya benar2 tertarik tentang topik ini... Kalau boleh, bisa tolong kirimkan jurnal tentang rotasi audit lebih banyak ke email saya? melly.novia@gmail.com

terimakasih banyak...

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

saya bisa berikan semua artikel koleksi saya, namun akan lebih menghemat waktu kalau anda bisa menjelaskan artikel seperti apa yang anda butuhkan. banyak di antara mereka yang mungkin tidak relevan. kalau mau kita bisa mendiskusikan hal ini di padang, februari depan.

 
 
Blogger try.b.a.prayer Says:

kepada mas rahmat,

kebetulan sekali sy sedang menyusun skripsi tentang perpindahan KAP, namun sy banyak menemui kendala selain jarang yg teliti di indonesia, sy sulit utk mengaitkan KMK yang mengatur hal ini dengan penelitian sy...
apakah mas rahmat ada jurnal atau artikel lain yang mengairkan penelitian perpindahan auditor dengan KMK ttg perpindahan auditor...

jika ada tolong email ke tjan_virnia@yahoo.com

dan jika tidak keberatan sy ingin sekali berdiskusi dan berkonsultasi mengenai hal ini...

thx
gbu

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

wah, kalau penelitian yang secara langsung meneliti tentang perpindahan klien dengan kmk tsb saya kira masih jarang. mungkin saja ada, namun saya tidak punya. kalau mau diskusi silakan kirim email saja ke saya, virnia. salam.

 
 
Blogger danar Says:

mas..ada artikel mengenai isu keinginan auditor untuk berpindah ga?? buat referensi skripsi gitu.. klo bisa artikel atas ulasan mas rahmat juga ga papa..
makasih mas..

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Mas Danar, artikel tentang hal itu ada saya miliki. Anda bisa lihat di dalam kutipan saya di dalam tulisan di blog ini. Sebenarnya yang lebih sering diteliti adalah mengapa klien memecat auditor, bukan auditor memilih untuk mundur. Di dalam artikel itu contohnya adalah Bockus dan Gigler. Anda coba cari dulu artikel tersebut. Saya masih di luar kota dan belum bisa memberikan kepada anda segera. Juga, tolong berikan alamat email anda kepada saya.

 
 
Blogger danar Says:

alamat email saya vicz_hansamu@yahoo.com
judul skripsi saya pengaruh sistem kompensasi dan kepuasan kerja terhadap keinginan auditor untuk berpindah. dimana memiliki hubungan negatif. karena menurut saya beberapa auditor terutama junior auditor lebih memilih keluar dari KAP di sebabkan fee yang di berikan terlalu rendah. terima kasih sebelumnya..sukses selalu buat mas rahmat.

 
 
Blogger Yogi Says:

Mas, tolong informasinya mengenai amandemen terhadap Keputusan Menteri Keuangan no. 423 tahun 2002 tersebut, apakah mas punya softcopy Amandemen tersebut?kalau ada, boleh disharing donk mas ke email saya, atau link untuk saya boleh download. Terimakasih

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Mas Yogi, anda bisa mencari dengan kata kunci di bawah ini:
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 359/KMK.06/2003

dan

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 17/PMK.01/2008

 
 
Blogger Rara Says:

mas rahmat, saya sedang melakukan penelitian tentang pergantian auditor dan tertarik untuk menggunakan jurnal Bockus and Gigler yang digunakan untuk mendukung artikel "pergantian auditor dan kantor akuntan publik". kalau boleh, bisa tolong kirimkan jurnal itu ke e-mail saya?
clara_hanika@yahoo.co.id

terima kasih.

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

@Rara, artikel sudah saya kirim. Mohon anda periksa kotak email anda.

 
 
Blogger Yunike Andriani Says:

mas Rahmat,saya sedang menyusun skripsi mengenai rotasi KAP dan AP. Kalau boleh bisa tolong kirimkan jurnal tentang topik ini ke email saya? Unike89@yahoo.com

Terima Kasih banyak...

Dan kalau mas Rahmat tidak keberatan boleh donk nantinya saya tanya2 dengan Mas..

GBU

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Yunike, sama dengan rekan-rekan yang lain yang pernah bertanya, akan lebih membantu saya diberitahu secara spesifik artikel mana yang akan saya bisa cari dan kirim.

 
 
Blogger e_LaRa_Dita Says:

saya tertarik dengan artikel di ini karena sedang menulis skripsi dengan tema pergantian auditor. kalau bisa, tolong kirimkan artikel itu ke email saya di looking_for_a_case@yahoo.co.id

terima kasih atas bantuannya..

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

e-Lara_Dita, ada banyak artikel yang saya gunakan di dalam artikel saya ini. Yang mana yang anda butuhkan tersebut?

 
 
Blogger ReVi Says:

Mas.... saya membutuhkan referensi buku-buku yang digunakan untuk artikel ini...
tolong bisa kirimkan referensi buku-buku yang digunakan???
Untuk daftar pustakanya saja...
saya sedang menyusun skripsi tapi dosen saya minta keterangan buku-buku yang digunakan apa saja.....
terimakasih....

reza99afif@rocketmail.com

 
 
Blogger ReVi Says:

Mas.... saya membutuhkan referensi buku-buku yang digunakan untuk artikel ini...
tolong bisa kirimkan referensi buku-buku yang digunakan???
Untuk daftar pustakanya saja...
saya sedang menyusun skripsi tapi dosen saya minta keterangan buku-buku yang digunakan apa saja.....
terimakasih....

reza99afif@rocketmail.com

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Reza(?)

Coba cek email anda. Saya ingin tahu artikel mana yang secara spesifik anda butuhkan untuk penulisan skripsi anda.

 
 
Blogger Yunike Says:

Saya membutuhkan jurnal/ artikel dari Dopuch et al, DeFond dan Francis, Bockus and Gigler yang mas pakai. Mas, kalo mas punya jurnal wahana vol.2 (1999:24) dan Balance vol.1 (2004:44) boleh juga donk dikirim. Saya kesulitan mencari 2 jurnal tersebut. Thx b4

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Yunike, apakah anda adalah orang yang sama dengan Yunike Andriani? Karena anda tidak meninggalkan alamat email, saya tidak yakin ke mana saya harus mengirim artikel tersebut. Tolong saya diberitahu kembali.

 
 
Blogger Yunike Says:

Iya sama mas, hehehe
Unike89@yahoo.com terimakasih sebelumnya

 
 
Blogger eforphy Says:

kepada pak rahmat..
saya sedang menyusun skripsi ttg audit switching dengan populasi perusahaan publik d indonesia dan salah satu kriteria sampel saya adalah "pergantian itu bukan karena peraturan (voluntary)"..
yang ingin saya tanyakan, dari taun berapakah saya harus mengambil sampel? 2002 atau 2003? mengingat peraturan rotasi audit di indo muncul pertama kali tahun 2002 dan revisi tahun 2003?
terimakasih

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Mas/mbak eforphy, paling aman sampel diambil adalah sebelum tahun 2003 atau laporan audit terakhir adalah untuk tahun buku 2002. Penyebabnya adalah karena di bulan September 2002 KMK yang mengatur pergantian itu ditandatangani. Memang pemberlakuannya bisa setelah 2003, namun tidak tertutup kemungkinan ada perusahaan yang telah mengganti auditor di tahun 2003.
Namun, bukan berarti pergantian setelah tahun 2003 adalah pergantian yang mandatory karena bisa saja pergantian itu terjadi secara sukarela. Jadi, kalau sebuah perusahaan telah mengganti auditornya sebelum lima tahun (menurut aturan 2002) atau enam tahun (menurut aturan 2008) berturut-turut menjalani tenur, maka pergantian itu adalah pergantian sukarela. Jadi, anda harus memastikan bahwa sebuah KAP belum menjadi auditor selama 5 atau 6 tahun berturut-turut untuk menyatakan bahwa itu adalah pergantian sukarela. Selamat meneliti. Silakan bertanya lagi melalui email jika butuh.

 
 
Blogger eforphy Says:

berarti tahun 2002 dianggap tahun pertama? dan untuk melihat apakah perusahaan mengganti auditor secara mandatory, saya harus memastikan suatu perusahaan tidak mengganti KAP nya sama sekali selama 5 thn ( sampai tahun 2006),dan baru mengganti KAP di tahun 2007?
oiya pak, ke email mana saya harus menghubungi bapak jika saya ingin berdiskusi lebih lanjut?
apakah bapak punya akun ym?
terimakasih

 
 
Blogger eforphy Says:

pak, sebelumnya saya pernah membaca jurnal ttg auditor switching milik ni kadek sinarwati (SNA 13).
di jurnal tsb beliau mengikutkan mandatory rotation sebagai kriteria seleksi sampelnya. tetapi beliau menggunakan tahun penelitian dr 2003-2007.

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Kalau saya tidak salah memahami, anda kan ingin meneliti pergantian yang sukarela. Kalau memang begitu, berarti sampel paling aman untuk diambil adalah sebelum tahun 2002 atau batasnya adalah audit atas tahun buku 2002 karena setelah tahun 2002, pergantian auditor sangat mungkin terjadi secara mandatory atau karena peraturan. Namun, kalau anda kesulitan mendapatkan data sebelum tahun 2002 dan anda justru hanya memiliki akses data setelah tahun 2002, maka anda harus memastikan bahwa pergantian auditor setelah tahun 2002 bukan disebabkan oleh tenur yang telah mencapai batas maksimum. Saya kira itu jawaban saya. Email saya rangkayobasa@yahoo.com

 
 
Blogger vhi Says:

mas saya lagi nyusun skripsi mengenai pengaruh rotasi auditor terhadap kualitas audit,.
Kalau boleh saya mau minta jurnal tentang rotasi auditor karena saya udah nyari-nyari tapi susah,.
ini alamat email saya mas vhi_angels@yahoo.co.id
Makasih mas,.

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Vhi, kalau lebih spesifik akan lebih mudah saya carikan artikel mana yang sesuai. Lain kali spesifik, ya.

 
 
Blogger dewi Says:

mas saya minta tlg carikan jurnal ismail, shanaz.2008.why malaysian second board companies swicth auditor?evidence of bursa malaysiainternational research journal of finance
karna saya sedang menyusun skripsi tentang pergantian KAP.saya masih bingung untuk mengukur financial distress lebih baik pake DER atau Z-altman???
jurnal bisa kirim k email saya
dewiqu07@gmail.com

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Dewi, artikel itu sudah saya kirim. Mohon mencek email. Salam.

 
 
Blogger amhi Says:

Slamat siang mas...

Saat ini sy dlm proses pnyusunan skripsi mngenai auditor changes tp trkendala beberapa data yg sulit sy temukan.. Siapatau mas rahmat memiliki data yg sgt sy butuhkn ini dan mau sharing k email sy amhichels@gmail.com
Sy brharap skaliii mas rahmat bs mmbantu sy.. Jurnal yg sy butuhkan:
- SNA 2002 Semarang, Mardiyah, “Pengaruh Faktor Klien dan Faktor Auditor terhadap Auditor Changes: Sebuah Pendekatan dengan Model Kontinjensi RPA (Recursive Model Algorithm)”
- Woo, E.S. dan H.C. Koh. 2001. “Factors Associated with Auditor Changes: A Singapore Study”. Accounting and Business Research, Vol. 31, No.2, pp.133-44.
- Sinason, D.H., J.P. Jones, dan S.W. Shelton. 2001. “An Investigation of Auditor and Client Tenure”. Mid-American Journal of Business, Vol. 16, No. 2, pp. 31-40.

Makasih bnyk sblumnya mas..

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Amhi ysh
Kalau paper yang berasal dari SNA mungkin bisa ditelusuri ke perpustakaan kampus. Saya tidak punya artikel ibu Aida A Mardiyah tersebut. Untuk dua artikel yang lain, maaf saya juga tidak punya. Mungkin anda bisa meminta artikel tersebut kepada penulis artikelnya? Biasanya mereka dengan senang hati akan memberikan jika anda menjelaskan kepada mereka siapa anda, univ anda, dan tujuan anda meminta artikel dari mereka.

 
 
Blogger Efril Ephink Says:

boleh tanya ga?????pernah denger berita ga klo investor itu bnr2 bereaksi thd pergntian KAP??
aq disurujh cri fenomena itu m dosenQ sebelum judul q d acc

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Efril, maaf baru bisa membalas. Setahu saya beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa pergantian KAP atau auditor memang direaksi oleh pasar. Namun, kalau yang yang anda tanyakan apakah investor secara individual bereaksi, maka jawabannya anda harus bertanya kepada beberapa investor. Namun, secara agregat, pasar memang terbukti bereaksi.

 
 
Blogger motivasi manis Says:

puten mas makasih banyak ne bacaannya bermanfaat sekali,kalau boleh saya minta artikel tentang pergantian auditor ke firnimarselina@yahoo.com untk artikel2 pendukung skripsi saya makasih sebelumnya

 
 
Blogger Lisa sasa Says:

mas saya Lisa, saya mau tanya. apakah ada perbedaan antara auditor changes(pergantian KAP) dengan auditor switching (pergantian auditor)? bole saya minta artikel dan jurnal yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara keduanya?
kirim ke email saya liza.galze09@gmail.com
terimakasih

 
 
Blogger Lisa sasa Says:

mas rahmat, saya minta tlg dicarikan jurnal ismail, shanaz.2008.why malaysian second board companies swicth auditor?evidence of bursa malaysiainternational research journal of finance
karna saya sedang menyusun skripsi tentang pergantian KAP.saya masih bingung untuk mengukur financial distress lebih baik pake DER atau Z-altman??? dan mengukur fee audit menggunakan apa yaa?
jurnal bisa kirim k email saya mas
liza.galze09@gmail.com

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Lisa, artikel saya kirim ke alamat email. Auditor switching dan changes saya kira sama saja. Itu hanya variasi istilah saja. Fin distress lebih sering digunakan Altman's z-score.

 
 
Blogger KRIM ESTHER Says:

mas rahmat, saya mau tanya . .
apa auditor switching itu berbeda dengan pergantian akuntan publik?
karna kata dosen saya itu beda dan saya hrs bisa membedakan...
oh iya, apakah mas punya reherensi jurnal2 tentang faktor2 yg mempengaruhi auditor switching?
krna skripsi saya tntg itu.. thx sblmnya..
detramaya@gmail.com

 
 
Blogger nizam Says:

mas rahmad.
saya mau minta tolong.
ada jurnal tentang pergntian auditor, auditor firm tenure terhadap kpuasan kerja dan kualitas auditor tidak???
sya nyari susahh

kalau ada tolong dikirim ke email saya.
nizam_a208@yahoo.com.

thx ya

 
 
Blogger Romiana Says:

Mas, saya sedang melakukan peneltian tentang "pergantian auditor terhadap kualitas audit dan kepuasan klien". Boleh minta tolong kirimin jurnal2 yg mas pake seperti: Dopuch et al, DeFond dan Francis, Bockus and Gigler". Kalo boleh tolong kirim ke email saya ya mas.
romianapriska@gmail.com

 
 
Blogger Romiana Says:

Mas, saya sedang melakukan peneltian tentang "pergantian auditor terhadap kualitas audit dan kepuasan klien". Boleh minta tolong kirimin jurnal2 yg mas pake seperti: Dopuch et al, DeFond dan Francis, Bockus and Gigler". Kalo boleh tolong kirim ke email saya ya mas.
romianapriska@gmail.com

 
 
Blogger Ditto D. Sapiutra Says:

pak rahmat, saya sedang menjalani skripsi perpindahan auditor (auditor switch) namun saya ada kendala pada bahan penelitian, jika pak rahmat mau berbaik hati..tolong kirimkan jurnal atau artikel mengenai auditor switching ke ditto.d.saputra@gmail.com
terima kasih pak

 
 
Blogger Ice Cream Says:

saya sedang mecari jurnal mengenai pergantian auditor untuk tugas saya.
bisa diemail tdk mas?
tikz_hun@yahoo.co.id

Trims ^^

 
 
Blogger Ice Cream Says:

saya sedang mencari jurnal mengenai pergantian auditor.
mas rahmat bisa diemail tidak ke saya?
tikz_hun@yahoo.co.id

 
 
Blogger rista sianipar Says:

mas, saya sekarang lagi nyusun skripsi dengan judul pengaruh tekanan etis, konflik organisasional, dan kepuasan kerja terhadap keinginan berpindah (turnover) akuntan publik..
Kalau boleh, saya minta tolong dikirimkan data yang relevan..
dosen saya juga minta supaya dilampirkan data terbaru mengenai turnover akuntan.. saya udah coba nyari, tapi nggak ketemu juga datanya..
saya minta tolong ya mas,
email saya riez_thacuterz@yahoo.com

trimakasih sebelumnya..

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Rista, kalau data perputaran akuntan publik di kantornya tentu saja tidak bisa diperoleh secara publik. Anda harus kumpulkan sendiri data tersebut ke individu yang bekerja atau pernah bekerja di KAP.

 
 
Blogger retna bayu Says:

Pak boleh saya minta info mengenai artikel auditor swichingnya mengenai variabel opini going concern, financial distress, roa dan reputasi auditor dengan pergantian audtitor. terima kasih sebelumnya.
kalau boleh ini email saya retna.bayu @gmail.com

 
 
Blogger mloonk Says:

kepada mas rahmat,,

saya sedang melakukan penelitian ttg actual turnover decision auditor,, saya kesulitan mencari referensi yang tepat,, kbanyakan yang ada ttg turnover intention dn pergantian ini,, tolong pencerahnnya kirim ke email saya ,, mloonk@gmail.com

 
 
Blogger Barnabas Manaen Says:

dear mr rahmat

saya sedang menyusun skripsi mengenai kualitas audit, yang saya ingin tanyakan adalah bagaimana cara mengetahui jumlah klien audit suatu KAP? khususnya klien audit industri sejenis.

thx alot
please reply asap

 
 
Blogger Fitri Ramadhani Says:

kepada mas rahmat,

kebetulan sekali sy sedang menyusun skripsi tentang perpindahan KAP, namun sy banyak menemui kendala.
mohon mas rahmat bersedia mengirim jurnal yang ada untuk referensi skripsi saya,ttg perpindahan auditor.dan jika ada dari luar negri lebih baik.

jika ada tolong email ke fitri.ramadhani.umri@gmail.com

dan jika tidak keberatan sy ingin sekali berdiskusi dan berkonsultasi mengenai hal ini...

thx
gbu

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Kepada Barnabas dan Fitri, saya mohon maaf baru bisa membalas pesan anda krn kesibukan lain.

Khusus untuk permintaan artikel dari Fitri, saya bisa berikan beberapa artikel. Namun, akan lebih baik jika anda menyebutkan judulnya dan siapa penulisnya dari sebuah artikel. Nanti saya akan carikan. Kirim saja nama penulis dan jurnal tempat artikelnya diterbitkan ke email saya rangkayobasa[at]yahoo[dot]com.

Untuk Barnabas, sulit sekali untuk mengetahui siapa saja klien audit dari sebuah KAP. Satu-satunya cara adl anda bertanya langsung kepada KAP yang dimaksud. Cara lain adl memeriksa laporan keuangan SEMUA perusahaan publik di BEI lalu catat siapa KAP untuk setiap persh publik itu. Namun, dari cara ini anda hanya bisa tahu siapa yang mengaudit persh publik di BEI, tidak bisa mengetahui siapa saja klien sebuah KAP.
Kalau saya boleh tahu apakah tujuan dari pencarian anda itu adl untuk mengetahui spesialisasi sebuah KAP? Kalau betul, anda bisa gunakan cara lain untuk mengetahui spesialisasi sebuah KAP, misalnya dengan melihat berapa persentase pangsa pasar KAP masing2 KAP di sebuah industri. Semakin banyak KAP itu dipakai oleh persh di dalam industri itu (dan semakin lama), maka semakin spesialis ia di bidang industri tsb.

Semoga membantu.

 
 
Blogger Economics Article Says:

Saya sangat tertarik dengan artikelnya. Tolong kirimkan ke tyasyogaridhoaji@yahoo.com sebagai referensi untuk pembuatan skripsi. Terima Kasih.

 
 
Blogger Mega Says:

Kepada Mas Rahmat, saya sekarang sedang menyusun skripsi mengenai pengaruh pergantian auditor terhadap audit delay. Namun, saya memiliki kendala untuk menemukan jurnal yang pas terhadap penelitian saya, karena saya lebih menyoroti permasalahan pergantian auditor nya. Kalau ada jurnal Dopuch et all atau jurnal yang dapat mendukung penelitian saya, saya minta tolong untuk mengirimkan ke alamat email ke purnamamega04@gmail.com. Terima Kasih atas bantuannya.

 
 
Blogger Saras Says:

halo mas,
bs mnta tlong krimkan artikel ato jurnal yg berhubungan ttg auditor switching g? yg menyebabkan trjdinya auditor switching baik itu berupa pergantian auditor, KAP, financial distress, opini going concern, etc.
tlng kirimkan k email sy : saras_saber@yahoo.co.id

trims sblmny,

 
 
Blogger Saras Says:

halo mas,

bs minta tlong kirimkan artikel/jurnal yg berhubungan dgn auditor switching baik yg di sebabkan oleh pergantian auditor, KAP, financial distress, opini going concern, etc?
krim k email sy : gunk.tya27@gmail.com

trims,

 
 
Blogger Rahmat Febrianto Says:

Perhatian untuk permintaan artikel agar bisa terlayani:
(1) Sebutkan judul lengkap, penulis, dan nama jurnalnya. Jangan minta hanya topik saja karena akan sulit untuk menyesuaikan.
(2) Saya tidak mungkin memiliki semuanya, maka cara termudah adalah meminta ke penulis aslinya. Pengalaman saya selama ini mereka selalu memberikan dengan sukahati. Pandai2 "merayu" saja.
(3) Permintaan alamatkan saja ke rangkayobasa[at]yahoo[dot]com. Saya tidak selalu bisa memeriksa akun ini.

 
 
Blogger roni ahmad Says:

mas rahmad saya sedang mencari pengukuran untuk variabel spesialisasi industri??punya jurnal2 y g?trus saya searching ada yang menyebutkan pengukurannya memakai market share penjualan perusahaan,memakai angka herfindakh,dimana nanti yang memiliki persentase terbesar disebut auditor spesialisasai industri,,,apakah demikian?

 
 
Blogger Ary Nugroho Says:

mas rahmat, saya boleh minta jurnal penelitian tentang auditor switching dari damayanti dan sudarma (2008), dan jurnalnya nasser (2006) ?

 
 
Blogger Caki Satia Says:

mas saya boleh minta fenomena pergantian KAP buat tugas akhir saya serta minta jurnal yan gberhubungan dengan pergantian KAP terhadap kualitas audit..
kalau ada bisa dikirim ke email saya sancakisatia@yahoo.com

 
 
Blogger Caki Satia Says:

mas saya boleh minta fenomena mengenai pergantian KAP serta jurnal dan teori nya mas..
kalo bisa kirim ke email saya sancakisatia@yahoo.com

 
 
Blogger sally Says:

salam kenal mas Rahmat.sya mhswa S2 akt UNDIP yg sedang dlm penyusunan tesis ttg audit judgment.Apakah mas punya jurnalnya Trotman 1985 vol 23judulnya:"the effect of review process on auditor judgment"?en skalian sya mo mnta bntuannya mas kira2 fenomena/kasus sprti apa yg bisa menjelaskan bhwa komunikasi antara auditor dengan klien tidak berjalan mulus sehingga berdampak pada judgment auditor?mhn pendapatnya!soalnya sewaktu RUPT latar belakang sya belum kuat untuk menjelaskan hal tersebut.sebelumnya terimakasih atas atensinya en Good Luck!(email sya:ssandanafu@gmail.com

 
 
Blogger LiangRuiYing Says:

mas bs minta jurnalnya dikirim ke email saya vitaria_liang@yahoo.com
saya pake jurnal mas d=jdi refrensi dosen saya minta aslinya...
terima kasih

 
 
OpenID destianamib Says:

mas Rahmat sekarang saya sedang menyusun skripsi tentang Analisis faktor Internal yang mempengaruhi perusahaan melakukan Auditor Switching, ,kalau boleh bisa kirimkan jurnal tentang topik ini ke email saya dan jika ada jurnal-jurnal lain yang berhubungan atau mengarah dengan topik skripsi saya tersebut, ,

tolong email ke desty_iqbal@ymail.com
terima kasih banyak, ,

 
 
Blogger sani utami Says:

mas rahmat boleh minta kirimin jurnal tentang auditor switching by corporate governance sama jurnal damayanti dan sudarma (2008), dan jurnalnya nasser (2006.. alamat email saya godlov_sanni@yahoo.com

terima kasih

 
 
Blogger Maria Febriana Says:

selamat siang mas rahmat,
saya sedang menyusun skripsi tentang audit switching, boleh saya minta dikirimi jurnal yang berkaitan dengan audit switch ke email saya? mariafebriana@rocketmail.com
terimakasih

 
 
Blogger Hafizs Yusmar Says:

Selamat sore,
Mas Rahmat, saya Hafizs berencana menjadikan topik audit switching dan rotasi audit sebagai bahan skripsi saya. Saya minta tolong kpd mas rahmat agfar mengirimkan jurnal jurnal yang berhubungan dengan rotasi audit dan aduitor switching kepada emal saya di uda.hafizs@gmail.com

terimaksih mas.. :)

 
 
Blogger Ratih Permatasari Says:

mas saya sedang nyusun skripsi tentang auditor switch kalau boleh saya minta tolong dikirimkan artikel link atau bahan apa saja yg terkait auditor switch. permatasari_ratih@ymail.com terimakasih :))

 
 
Blogger Dian Noviani Says:

mas rahmat, mengenai teori sehubungan dengan auditor switching ini bisa saya temukan di literatur/buku apa ya mas?

 
 
Blogger Dian Noviani Says:

mas rahmat, mengenai teori sehubungan dengan auditor switching ini bisa saya temukan di literatur/buku apa saja ya mas?

 
 
Blogger Nobita Rinu Says:

mas rahmat saya sedang menyusun skripsi ttg auditor switching secara voluntary,, saya boleh minta dikirimkan artikel dari Dopuch et al, DeFond dan Francis, Bockus and Gigler yang mas pakai. Mas, kalo mas punya jurnal wahana vol.2 (1999:24) dan Balance vol.1 (2004:44).. kalo mas rahmat ada artikel lain yg terkait boleh juga dikirim.. emai saya nobitarinu@gmail.com

 
 
Blogger ismayani yesi Says:

pagi mas rahmat, saya sangat tertarik dengan pergantian auditor ini dan saya sedang menyusun proposal skripsi saya mengenai pergantian KAP dengan variabel independen opinion shopping dan financial distress, menurut mas rahmat apa yg perlu saya tambah untuk variabel ini dan klo boleh saya mau minta tlong mas, mas ada gk jurnal asing tentang topik saya, klo ada tlong kirimkan ya mas ke ismayani_yesi@yahoo.com
terimakasih seblmnya mas

 
 
Blogger Gitta Destalya Says:

selamat malam mas, saya boleh minta artikel atau jurnal tentang rotasi kualitas laporan keuangan dan kualitas audit tidak? dan kalau ada jurnal johnson 2002 tentang "audit-firm tenure and the quality of financial report".
Mas saya mau berkonsultasi kalau boleh, soalnya saya mempunyai hambatan.

 
 
Blogger Gitta Destalya Says:

selamat malam mas, saya boleh minta artikel atau jurnal tentang rotasi kualitas laporan keuangan dan kualitas audit tidak? dan kalau ada jurnal johnson 2002 tentang "audit-firm tenure and the quality of financial report".
Mas saya mau berkonsultasi kalau boleh, soalnya saya mempunyai hambatan.
ini alamat email saya mas gitta.destalya@yahoo.com

 
 
Blogger Gitta Destalya Says:

selamat malam mas, saya boleh minta artikel atau jurnal tentang rotasi kualitas laporan keuangan dan kualitas audit tidak? dan kalau ada jurnal johnson 2002 tentang "audit-firm tenure and the quality of financial report".
Mas saya mau berkonsultasi kalau boleh, soalnya saya mempunyai hambatan.
ini alamat email saya mas gitta.destalya@yahoo.com

 
 
Blogger Gitta Destalya Says:

selamat malam mas, saya boleh minta artikel atau jurnal tentang rotasi kualitas laporan keuangan dan kualitas audit tidak? dan kalau ada jurnal johnson 2002 tentang "audit-firm tenure and the quality of financial report".
Mas saya mau berkonsultasi kalau boleh, soalnya saya mempunyai hambatan.

 
 
Blogger Musiyam Rusmani Says:

mas saya minta tlg carikan jurnal ismail, shanaz.2008.why malaysian second board companies swicth auditor?evidence of bursa malaysiainternational research journal of finance
karena saya sedang menyusun skripsi tentang pergantian KAP.saya masih bingung untuk mengukur financial distress lebih baik pake DER atau Z-altman???
jurnal bisa kirim k email saya mussypez@gmail.com
terimakasihh

 
 
Blogger Musiyam Rusmani Says:

mas saya minta tlg carikan jurnal ismail, shanaz.2008.why malaysian second board companies swicth auditor?evidence of bursa malaysiainternational research journal of finance
karna saya sedang menyusun skripsi tentang pergantian KAP.saya masih bingung untuk mengukur financial distress lebih baik pake DER atau Z-altman???
jurnal bisa kirim k email saya mussypez@gmail.com
terimakasihh

 
 
Blogger Musiyam Rusmani Says:

mas saya minta tlg carikan jurnal ismail, shanaz.2008.why malaysian second board companies swicth auditor?evidence of bursa malaysiainternational research journal of finance
karna saya sedang menyusun skripsi tentang pergantian KAP.saya masih bingung untuk mengukur financial distress lebih baik pake DER atau Z-altman???
jurnal bisa kirim k email saya mussypez@gmail.com

 
 
Blogger Musiyam Rusmani Says:

mas saya minta tlg carikan jurnal ismail, shanaz.2008.why malaysian second board companies swicth auditor?evidence of bursa malaysiainternational research journal of finance
karna saya sedang menyusun skripsi tentang pergantian KAP.saya masih bingung untuk mengukur financial distress lebih baik pake DER atau Z-altman???
jurnal bisa kirim k email saya mussypez@gmail.com
terimakasihhh

 
 
Blogger ekayanti Says:

mas rahmat boleh minta kirimin jurnal yang membahas tentang low-balling yang dye(1991)Informationally Motivated Auditor Replacement.ke ekafitriyanti93@gmail.com makasih mas

 
 
Blogger feri surahman Says:

mas rahmat, saya mohon bantuannya untuk menambah referensi tentang penelitian saya mengenai faktor yang mempengaruhi pergantian auditor..
kalo ada jurnal atau artikel yang berhubungan mengenai topik penelitian saya, mohon dikirimkan ke emaial saya..
ferisurahman@yahoo.com
terima kasih

 
 
Blogger feri surahman Says:

mas rahmat saya minta tolong kirimkan jurnal mengenai faktor yang mempengaruhi pergantian auditor..
ferisurahman@yahoo.com

 

Leave a Reply

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Padang, Sleman, Mataram, Nusantara, Indonesia

Sering kali diam adalah pilihan terbaik walau kediaman itu tidak mesti hening...

Previous Posts


world map hits counter
map tracker

free counter